Rabu, 18 Februari 2015

FILSAFAT MAKANAN: PARE REBUS

FILSAFAT MAKANAN: PARE REBUS

Ivan Taniputera
18 Februari 2015
.


Pada kesempatan kali ini marilah kita merenungkan mengenai pare. Tentu banyak orang yang tidak asing lagi dengan pare (momordica charantina) yang rasanya pahit ini. Meski banyak orang mengenalnya, mungkin yang menyukainya tidak banyak. Kendati demikian, pare konon memiliki beberapa khasiat, antara lain adalah:

1) Dapat mengendalikan gula darah, sehingga mengurangi risiko terkena diabetes.
2) Membantu meningkatkan kekebalan tubuh.
3) Baik bagi ginjal. 
4) Bersifat antioksidan, sehingga dapat menghambat pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh.

Lalu apakah makna filosofis pare? Dalam hidup ini kita tidak hanya memerlukan yang manis-manis saja. Kita tidak hanya memerlukan pujian-pujian indah yang enak didengar, melainkan juga saran-saran atau kritikan membangun yang pahit rasanya. Semua itu, perlu dalam keseimbangan. Seorang pemimpin tentu saja sangat memerlukan kritikan-kritikan yang pahit namun membangun. Banyak orang hanya sanggup mengkritik, tetapi tidak bisa memberikan saran yang baik. Tentu saja kritikan semacam itu bukan kritikan yang sehat atau membangun. Orang-orang yang melontarkannya dapat dikatakan sebagai "asbun" atau "asal bunyi." Pare menyehatkan bukan karena rasanya yang pahit, namun memang dalam dirinya sudah terkandung zat-zat yang menyehatkan tubuh. Pare rasanya pahit tapi sehat, bukan pahit tapi beracun. Kita perlu yang pahit tetapi sehat. 

Kalau terlalu banyak makan yang manis-manis, maka kita justru berisiko terserang penyakit. Namun bukan berarti makanan manis tidak diperlukan. Kita membutuhkan kalori dan energi darinya. Jadi kembali lagi, semua itu harus seimbang. Kita juga memerlukan pujian atau kata-kata indah agar hidup kita juga menjadi indah dan tetap bersemangat. Orang yang hanya mengonsumsi makanan pahit juga tidaklah sehat.

Dalam mengkritik seseorang juga harus tulus dan jangan dilandasi rasa benci. Banyak orang bersifat munafik, di mulut mengatakan tulus, namun hatinya mengumbar kebencian. Tentu saja ini juga merupakan kritikan beracun. Pare melimpahkan zat-zat yang menyehatkan pada kita dengan tulus. Pare tidak membenci kita. Bahkan mungkin kitalah yang justru membenci pare karena rasanya. Padahal ia bermanfaat bagi kita.

Hidup terkadang ada manis dan juga ada pahitnya. Barulah dengan demikian menjadi indah.

Semoga bermanfaat.

Artikel-artikel menarik lainnya mengenai ramalan, astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, metafisika, dan motivasi hidup, silakan kunjungi: